Selasa, 20 Januari 2026 - Acara seminar bertema “Membangun Repositori Perpustakaan yang Terintegrasi dan Berkelanjutan: Peran Pustakawan dalam Akses Terbuka” dilaksanakan di Auditorium Perpustakaan Nasional Republik Indonesia lantai 2, Jalan Merdeka Selatan No. 11, Jakarta Pusat. Kegiatan ini dihadiri oleh pustakawan, akademisi, pengelola repositori, serta pegiat literasi di lingkungan Kementerian/Lembaga di Provinsi Jakarta. Seminar ini menjadi ruang temu gagasan tentang peran strategis perpustakaan dan pustakawan dalam ekosistem pengetahuan terbuka di era digital.
Acara secara resmi dibuka oleh Ketua Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI), Bapak Dr. Joko Santoso, M.Hum. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa pustakawan tidak lagi hanya berperan sebagai penjaga koleksi, tetapi telah berkembang menjadi pengelola pengetahuan, mediator informasi, dan penggerak literasi digital. Ia juga menekankan pentingnya repositori dan akses terbuka sebagai sarana pemerataan pengetahuan dan penguatan riset nasional.
Setelah pembukaan, acara dilanjutkan dengan penandatanganan kerja sama antara Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) dan platform Neliti. Kerja sama ini bertujuan memperkuat penyebaran karya ilmiah Indonesia melalui platform digital yang terbuka dan mudah diakses. Melalui kolaborasi ini, diharapkan karya-karya ilmiah, laporan riset, dan publikasi kebijakan dapat menjangkau masyarakat lebih luas dan memberi dampak nyata bagi pembangunan pengetahuan.
Sesi utama diisi oleh tiga narasumber dengan tema yang saling melengkapi. Narasumber pertama, Wiratna Tritawirasta, menyampaikan materi tentang peran pustakawan sebagai arsitek informasi. Ia menjelaskan bahwa di tengah ledakan informasi digital, pustakawan berperan menyusun struktur pengetahuan, menyaring informasi terpercaya, dan mengubah data menjadi informasi yang mudah dipahami. Repositori dipandang sebagai wadah strategis untuk mengelola pengetahuan secara berkelanjutan dan mendukung akses terbuka bagi masyarakat luas.
Narasumber kedua, Dwi Fajar Saputra, membahas repositori institusi dalam ekosistem riset terbuka dan kaitannya dengan Digital Humanities. Ia menyoroti bahwa repositori tidak seharusnya hanya menjadi tempat menyimpan publikasi akhir, tetapi harus menjadi infrastruktur pengetahuan yang memungkinkan data dianalisis, ditautkan, dan digunakan ulang. Ia juga mengkritisi kondisi repositori di Indonesia yang sebagian besar masih berhenti pada fungsi simpan dan akses, belum sepenuhnya mendukung pemanfaatan ulang data untuk riset lintas disiplin.
Narasumber ketiga, Anton, memaparkan peran platform Neliti dan layanan RepoBuilder dalam mendukung literasi pengetahuan. Ia menjelaskan bahwa Neliti berfungsi sebagai agregator dan penyebar karya ilmiah Indonesia agar lebih mudah ditemukan dan dibaca secara global. Melalui RepoBuilder, institusi yang belum memiliki repositori sendiri dapat membangun repositori digital secara praktis, sehingga hasil riset tidak hanya tersimpan, tetapi benar-benar digunakan dan memberi manfaat sosial.
Seminar ini menegaskan bahwa masa depan perpustakaan dan pustakawan terletak pada kemampuan mengelola pengetahuan secara terbuka, terhubung, dan berkelanjutan. Melalui repositori, kolaborasi lintas lembaga, serta dukungan teknologi digital, pustakawan diharapkan menjadi aktor utama dalam membangun ekosistem pengetahuan yang inklusif dan berdampak bagi masyarakat luas.
Gedung Athena, Lantai 2, Badan POM, Jalan Percetakan Negara No. 23, Jakarta Pusat 10560
+62 21 4244691 / 42883309 / 42883462 ext.1007
6281 21 9999 533 (SMS)
Support: perpustakaan@pom.go.id
Hari Ini: 18
Kemarin: 25
Minggu Ini: 43
Bulan Ini: 43
Total: 348061
Sedang Online: 0
4691 votes, average: 39649 out of 5, rated
2022 BPOM All rights reserved.
Admin
Mohon isi form di bawah ini!
Klik percakapan baru untuk mulai chat
Layanan Referensi Perpustakan BPOM